Judul diatas merupakan sebuah tema yang saya ambil dari workshop Equality Tournalism yang selenggarakan oleh Equilibrium tanggal 26 November 2011. Equilibrium merupakan nama dari unit kegiatan Pers Mahasiswa UGM (Universitas Gajah Mada). Workshop yang diadakan di Kalimilk #TKP2 Seturan ini dihadiri sekitar seratus orang yang berasal dari berbagai kalangan baik dari anak sekolah, mahasiswa maupun masyarakat umum. Raditya Hari, ketua panitia workshop ini mengatakan bahwa equilibrium sebagai persma ingin mewadai kegiatan-kegiatan jurnalistik bukan hanya untuk pers tapi juga untuk masyarakat umum. Dimana bisa membuat orang awan bisa menulis dengan cara melatih dan memberi wawasan berupa workshop kecil. “Bukan hanya sekedar menulis namun juga ada workshopnya”, ujar Hari yang saat ini masih melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM jurusan akuntansi.
Workshop yang dimulai pagi hari itu menghadirkan 2 pembicara yaitu mas Ebbie Vebry Adrian (Travel Fotografer) dan mbak Trinity (Travel Journalist). Sesuai dengan tema dan judul yang diberikan berupa tournalism adalah sesuatu yang tidak salah menghadirkan 2 pembicara yang telah berpengalaman dalam hal travelling baik di Indonesia maupun luar negeri. “Kita mengobservasi dulu pembicaranya, Trinity Travelling udah booming dan cukup menarik, untuk mas Ebbie-nya kita tahu dari MetroTV, dia udah terkenal dan jarang banget ter-expose acara yang mengangkat fotografi Indonesia”, kata Hari yang masih menginjak semester 5 di UGM.
Saya memang datang terlambat waktu mengikuti workshop, namun hal itu tidak mengurangi sedikitpun rasa penasaran saya untuk menggali lebih jauh tentang fotografi. Kebetulan sekali ketika datang mas Ebbie baru mulai memberi ilmu tentang fotografi alam yang dia geluti selama bertahun-tahun, dan akan saya ceritakan sedikit disini. Beliau mulai bercerita tentang latar belakang fotografi alam dimana banyak aspek yang dapat digali dari sebuah objek sehingga didapat sebuah foto yang memiliki kualitas yang baik. Trik dan tips pun beliau berikan sembari menunjukan hasil karyanya dan mulutnya tak henti memberi masukan dan motivasi dibarengi dengan memindahkan slide presentasi satu persatu. Peserta yang datang pun kagum dengan hasil karya beliau dimana satu foto yang ditampilkan dapat memberi banyak kata dan menggambarkan keindahan, “foto itu bukan hanya sekedar jepret saja tapi juga ada tekniknya”, ujar mas Ebbie.
Beberapa teknik seperti pencahayaan (exposure), compotition, titik fokus (vocus point), perspektif, view point, bingkai (framming), horizon rata, skala, aerial (foto dari udara), moving subject dan sebagainya diberikan secara mendalam kepada peserta. Bahkan saya masih teringat tentang teknik shadows, dimana kita bisa mendapatkan bayangan langit senja berwarna biru cantik. Efek biru terjadi setelah sunrise (sore warna langit kuning) kurang lebih 10 menit sebelum gelap. Oh iya satu teknik lagi yang masih terngiang ngiang di kepala dan ingin saya coba, teknik memakai flash. Flash ternyata dapat mengisolasi gambar, maksudnya jika kita ingin mendapatkan objek yang kita inginkan tanpa ada objek lain di sekitarnya yang tidak kita inginkan (tapi tetap masuk frame), maka dengan bantuan flash kita dapat menghilangkan objek yang tidak kita inginkan tersebut.
The Subject!
Teknik memotret memang sangat penting kita pelajari agar menghasilkan gambar yang mempesona, namun jangan lupakan subject yang hendak kita foto. Kadang hasil foto kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan dikarenakan kita kurang mengetahui karakteristik subject yang hendak kita foto. Mas Ebbie memberikan beberapa contoh subject serta cara meng-explore subject tersebut agar mendapatkan gambar yang indah.
- 1. People
- Karakter orang tiap daerah tentunya berbeda, setiap karakter dari orang yang kita foto di setiap daerah itu yang akan membuat menarik untuk dilihat.
- Aktivitas masyarakat sehari hari akan lebih membuat suatu foto menarik karena dari situlah masyarakat awam dapat menerima pesan tentang gambaran suatu kearifan lokal di daerah melalui foto. Lebih bagus jika foto menampilkan banyak orang (group)
- Di suatu daerah pasti banyak anak-anak, nah jika ingin mengambil gambar anak-anak, paling enak membuat mereka tampil alami.
- 2. Landscape
- Biasanya gambar pemandangan diambil menggunakan lensa wide (lebar) karena akan menggambarkan keindahan alam sekitar secara luas. Beda halnya dengan menggunakan lensa zoom yang hanya menampilkan secuil keindahan dibandingkan lensa wide tentunya dalam posisi memotret yang sama. Banyak sekali yang mas Ebbie berikan mengenai cara memotret landscape ini, namun yang membuat saia tertarik adalah salah satu foto dimana matahari memberikan efek lensflare. Mas Ebbie menerangkan bagaimana cara membuat efek lensflare tersebut. Gini nih caranya: ambil matahari penuh dan jangan tertutup awan dan biasanya sih dibawah jam 9 pagi. Pake diafragma f16 / f22. Lensa memang terlalu peka dengan sinar matahari jadi jangan terlalu lama terkena matahari secara langsung.
- 3. The Urban Enviroment (Perkotaan)
- Ambil detai dari arsitektur, jangan hanya luarnya saja. Yang dimaksud adalah perkotaan tentunya akan banyak gedung yang berjajar tinggi di banyak tempat. Alangkah baiknya fokuskan saja pada satu bangunan dan ambil detail seperti dinding, pintu, maupun isi dari bangunan tersebut.
- 4. Clip Art
- Paling sering dipakai adalah mural yang dibuat oleh anak-anak muda di suatu daerah atau sering disebut bomber. Pilihlah dari sekian banyak mural yang paling bagus menurut anda, mungkin bisa dengan memasukkan orang sebagai skala gambar mural tersebut, namun jika tidak juga tak masalah.
- 5. Festival
- “Pasti Crowded!” hal itu yang pertama kali dikatakan oleh mas Ebbie. Tapi gak masalah, yang penting tentukan dimana anda harus berdiri. Resiko kecopetan memang ada dan harus ekstra hati-hati. Banyak turis asing yang menyukai subject seperti ini. Gak ada negara selain Indonesia yang memiliki banyak festival!
- 6. Entertainment
- Acara musik, sport event (contohnya surfing di Bali) ataupun shopping. Namun tipsnya tetap detail pasti akan lebih menarik.
- 7. Wild Life
- Contoh gambar seperti lumba-lumba di habitat, close up binatang, ataupun tumbuhan yang langka / endemik.
Pada awalnya kita akan bingung untuk memulai travel fotografi karena penjelasan tentang teknik dan subject diatas, namun mulailah dari yang terdekat dengan kita sekarang ini untuk mulai memotret tanpa asal jepret. BACK AT HOME! Ambilah kamera anda, transfer foto dari kamera anda ke media penyimpanan, komputer maupun tablet PC. Cek, seleksi dan buang foto yang gak penting bagi anda. Arsip semua foto yang anda penting. Contohnya dengan mengelompokkan dan memberi folder untuk foto-foto yang berhubungan dengan suatu hal contohnya adalah liburan. Jangan lupa untuk mem-back up foto yang dikhawatirkan karena kejadian yang tidak kita inginkan, media penyimpanan kita tiba-tiba rusak dan tidak bisa digunakan lagi, maka hilanglah foto kita. Penulis sih biasanya mem-back up file di media penyimpanan online yang free.
oh iya jangan lupa share foto kalian yang menurut kalian layak untuk dipamerkan ke teman-teman melalui jejaring sosial ataupun blog. Nah yang terakhir mungkin untuk yang agak professional nih. Jual foto perjalanan anda. Cari kenalan orang advertising atau majalah dan tawarkan foto anda. Tentunya dalam menawarkan foto anda bakal tau diri dan mengetahui kemampuan anda sendiri. Anda juga bisa jadi fulltime fotografer seperti mas Ebbie.
Jangan jadikan fotografi buat gaya!
Selamat Berkarya!

Nek aku foto2 tinggal jepret sebanyak2nya, nanti kalau sudah selesai baru dipilih. Wkwkwkwk…
Posted by nahdhi | Desember 10, 2011, 7:15 amnature..
tp cobalah buat lebih dr sekedar dokumentasi
Posted by kukuhsetyawan | Desember 12, 2011, 12:13 pm